Assalamu’alaikum..
Well, sekarang saya lagi suka banged sama seminar2 tentang membangun pikiran. Kayak Hypnomotivasi, StiFin, mind technology, mind programming, dll. Entah kenapa, buatku seminar2 tentang itu bener2 menarik. Kita bisa belajar mengendalikan pikiran sendiri dan menggunakan otak dengan baik.
Tapi udah 4 kali saya ikutan seminar kayak gitu, hanya yang terakhir ini yang nunclep di hati. Mungkin karena trainernya “memaksa” pesertanya untuk mulai melakukan detik itu juga. Yang sebelum2nya itu cuman dikasih trik2nya, terus peserta disuruh coba sendiri pas nanti2.
Nah, prakteknya itu para peserta disuruh menuliskan impian2 yang ingin dicapai. terserah sebanyak apa, sesulit apa, yang penting dituliskan dengan detil. setelah itu harus diteriakkan sekuat2nya dan sekencang2nya. Waktu meneriakkannya, kita harus serius dan benar2 merasakan untuk meminta impian2 yang kita inginkan. Dan inilah impian yang saya tulis…
1. Saya ingin menjadi seorang penulis novel dengan ide yang orisinil dan baru tapi bermanfaat bagi orang banyak sebelum umur 23 tahun. Saya harus bisa menerbitkan novel minimal 2x dalam setahun dan semua novel saya harus menjadi best seller. (Amin)
2. Saya ingin menjadi programmer yang handal dan bisa menguasai seluruh bahasa pemrograman dan mempunyai software house terbaik di Indonesia sebelum usia 30 tahun. (Amin)
3. Saya ingin punya perpustakaan dengan 1000 novel, 1000 komik, dan 1000 buku lainnya sebelum usia 25 tahun. (Amin)
Itulah 3 impian terbesar saya saat ini dengan impian yang paling ingin saya capai adalah yang pertama. Karena dari kecil, saya bercita2 ingin menjadi penulis. Penulis yang bermanfaat tentunya. Sehingga saya benar2 terjun ke dunia penulisan sejak SD. Alhamdulillah sering menang lomba kepenulisan.
Namun sejak saya masuk kuliah, saya mulai vakum untuk menulis. Entah kenapa gairah saya menghilang. Saya masih menulis sampai sekarang, namun sudah tidak produktif lagi. Saya hanya menulis blog (itu pun jarang2), menulis beberapa artikel untuk matakuliah kewarganegaraan, Bahasa Indonesia dan buletin bulanan BEM Polbat (ada salah satu artikel yang dimuat di Kabar Indonesia), beberapa draft novel (tapi selalu mentok di BAB 2), beberapa karya tulis ilmiah untuk matakuliah Bahsa Indonesia dan seleksi MAWAPRES (yang MAWAPRES masih setengah jadi), serta laporan2 Proyek Akhir 1-2 yang tebalnya lebih daripada novel.
Selama kuliah, tak satu kali pun saya mengikuti lomba kepenulisan seperti waktu masih sekolah. Hal ini terbukti ketika simulasi visualisasi dan mental block (saat seminar itu), saya tidak dapat membayangkan hal bahagia tentang karir kepenulisan saya pada saat kuliah. Semuanya hanya berupa slide show prestasi2 saya pada saat SD, SMP dan SMA. Bagi saya karir kepenulisan saya di bangku kuliah tidak seproduktif dahulu.
Jujur saya sangat ingin balik kayak dulu lagi. Menulis dengan semangat. Menguasai berbagai isu, karena dulu genre penulisan saya adalah artikel sosial. Sehingga saya mendalami isu2 hangat yang layak dituliskan. Sekarang saya memang paham isu (karena kewajiban sebagai pengurus BEM), namun pendalaman saya hanya sampai tahap konvensional, tidak mengkaji dan menganalisa ke dalam tulisa. Dan akhirnya otak saya menjadi buntu.
Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan saya tidak bisa fokus lagi ke dalam menulis. Misalnya, saya sudah sangat jarang beli buku (kalo dulu sebulan sekali saya pasti beli buku 3 sampai 4 buah, gak jajan gak peduli, yang penting beli buku), tapi sekarang saya beli buku palingan 2 atau 3 bulan sekali (SAYA AMAT INGIN SEKALI BELI BUKU SETIAP BULAN LAGI KARENA BUKU ADALAH PENGHILANG STRES BAGI SAYA DAN SAYA MERASA AMAT SANGAT NYAMAN HANYA DENGAN MEMEBACA BUKU). Kemudian, cukup banyaknya tekanan dari luar yang membuat saya merasa malas untuk menulis, seperti tugas kuliah yang menumpuk (keburu capek, jadinya pengen tidur aja), tugas organisasi yang menanti, dan masih banyak lagi.
Sekarang saya memang belum bisa fokus untuk menulis. Tapi saya sudah janji, ketika tugas akhir saya selesai, saya mau fokus menulis lagi. Dan saya ingin meraih cita2 saya sebagai penulis yang sukses (Amin).
Ketika akhir sesi seminar, para peserta harus membayangkan impiannya menjadi nyata. Dan saya melihat diri saya dalam sebuah acara bedah buku (buku saya pastinya) dan dikelilingi 10 judul buku yang telah saya tulis. Jujur, saya merasa amat sangat bahagia.
*jadi curhat ini..
C U..






