Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Setitik Doa di Hari Bahagiaku

Assalamu’alaikum….

Well, sekarang adalah hari bahagia buat aku. Hari ini, aku udah hidup selama 18 tahun di dunia fana ini. Yupss, hari ini adalah hari ulangtahunku yang ke 18 tahun.

Jangan tanya padaku apa arti ulangtahun buatku. Jujur, aku masih selalu bingung. Sulit buatku untuk mengartikannya. Aku hanya mengartikannya secara sederhana. Waktu hidupku semakin sempit. Cuma itu. Tak lebih dan tak kurang. Hal ini membuat aku bertanya, “Apakah aku sudah berbuat banyak untuk hidupku sendiri dan hidup orang lain?”. Jawabannya simpel dan amat mudah. Hanya satu kata. TIDAK. Just that. No more.

Aku lahir 18 tahun yang lalu, di sebuah malam tahun baru yang indah. Begitu kata orangtuaku. Aku lahir hanya 15 menit sebelum pergantian tahun. Kata Mamaku, saat itu dokter yang menanganiku memakai kemeja batik karena beliau sedang dalam acara perayaan tahun baru ketika dipanggil.

Aku, 18 tahu yg lalu, beberapa jam setelah aku dilahirkan ke dunia ini...

Aku, 18 tahun yg lalu, beberapa jam setelah aku dilahirkan ke dunia ini...

Ada hal menarik yang diceritakan orangtuaku. Abangku yang saat itu berusia 3 tahun, dititipkan kepada kakak sepupuku yang sudah dewasa. Ternyata, abangku itu diajak ke diskotik oleh kakak sepupuku itu. Kata kakak sepupuku itu, ia mendapat undangan perayaan tahun baru dari temannya, namun mendadak harus dititipin abangku. Jadi, abangku sudah pernah mengiunjak diskotik saat usia 3 tahun! Hehehe….

Aku tidak lahir normal. Aku lahir dengan cara vakum atau ditarik keluar. Hal ini sempat menimbulkan kecemasan. Karena kebanyakan bayi yang lahir vakum mengalami kerusakan otak alias adenoid atau idiot. Dokter bilang, ada 2 kemungkinan. Aku akan menjadi adenoid atau aku akan jadi anak jenius. Bukan anak yang biasa2 saja.

Alhamdulillah, untunglah, aku tidak menjadi adenoid ketika tumbuh. Pertumbuhanku bisa dibilang cukup cepat. Aku bisa berbicara cukup lancar bahkan sebelum berumur satu tahun. Usia 2 tahun, aku sudah bisa membaca dan berhitung. Tapi, aku tidak pernah merasa kalau aku jenius. Soalnya kadang aku suka lemot banget. Bener2 gak nyambung…

Malam ini, aku duduk di depan komputerku. Menulis kenangan2ku selama 18 tahun hidupku. Aku sama sekali tidak berniat untuk tidur sebelum pukul 12 malam ini. Aku ingin menggu detik2 menjelang tanggal 31, hari ultahku yang ke 18 ini.

Aku tahu, aku terlalu banyak menyia-nyiakan hidupku. Selama 18 tahun ini, mungkin amalku bisa dihitung dengan jari. Namun, dosaku sudah tak bisa lagi dihitung. Bahkan dengan kalkulator paling canggih atau dengan super komputer sekali pun. Terlalu banyak.

Tahun ini, aku sama sekali tidak berniat untuk merayakan ulangtahunku. Padahal banyak teman-temanku yang berlomba2 untuk merayakan hari ulangtahun mereka. Tapi aku tidak berminat sama sekali.

Dulu, ketika aku masih duduk di SD, aku selalu ingin merayakan hari ultahku secara meriah. Dengan gemerlap pesta, gaun yang indah, kue ulangtahun yang indah, juga dengan kado2 yang datang dari teman2ku. Aku selalu merengek kepada kedua orangtuaku agar hari ultahku dirayakan semeriah mungkin. Namun saat itu, yang ada dalam pikiranku hanyalah kado2 yang dihadiahkan oleh teman2ku. Sangat dangkal.

Setelah SMP, aku sudah tidak pernah lagi merayakan hari ultahku selain bersama keluarga. Aku sudah mulai mengerti bahwa pesta tidak harus ada saat ulangtahun. Paling2 Mamaku hanya membeli sekilo ayam dan kami membakar sate di depan rumah. Hanya aku, orangtuaku, dan abangku. Kadang2 beberapa tetanggaku diundang. Teman2ku hanya memberikan ucapan selamat ulangtahun melalui SMS.

Setelah SMA, aku benar2 tidak merayakannya sama sekali. Hanya saja saat ulangtahunku tahun lalu yang ke 17, aku mengundang beberapa temanku. Namun hanya 3 orang yang datang. Aji, Ririn, dan Ananda. Hanya mereka. Yaang lain mempunyai banyak alasan mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir dan hanya mengucapkan selamat lewat SMS.

Tapi saat itu aku sama sekali tidak kecewa. Karena biarpun mereka tidak bisa datang, tapi mereka mengirimkan doa lewat SMS untukku. Biarlah hanya lewat SMS, namun aku yakin bahwa mereka tulus mendoakanku.

Jika ditanya, apakah ultah ke 17 adalah ultah paling berkesan, aku akan menjawab tidak. Ultahku ke 17 itu biasa2 saja. Walaupun saat itu usiaku sudah memasuki usia dewasa dan diakui dan sudah bisa bikin KTP walaupun sampai usiaku yang ke 18 ini, KTP-ku belum juga jadi. Aku akan jawab, yang paling berkesan adalah ultahku yang ke 14.

Kenapa? Karena saat itu aku merasa amat berharga bagi dunia. Saat ultahku yang ke 14, yaitu kelas 2 SMP, aku tidak merayakannya dengan pesta, seperti ultahku yang ke 13. melainkan dengan berdiri berhujan-hujan di lampu merah mengumpulkan sumbangan.

Saat itu tanggal 31 Desember 2004, 5 hari pasca tragedi tsunami Aceh. OSIS SMP-ku bermaksud untuk mengalang dana untuk membantu korban tsunami Aceh. Aku yang saat itu menjabat Wakil Ketua OSIS, diberi kepercayaan untuk mengorganisir kegiatan itu. Akhirnya ditetapkan bahwa waktu kami mengumpulkan sumbangan adalah tanggal 31, bertepatan dengan hari ultahku. Aku sempat kecewa, namun setelah mengalami hari itu, aku merasa sangat bahagia.

Pada hari H-nya, hujan lebat mendadak turun. 20 orang anggota OSIS SMP-ku telah hadir di sana sejak pagi. Aku sangat bangga melihat semangat mereka. Walaupun kami harus berhujan-hujan dengan jaket yang tidak boleh dikancing untuk menunjukkan identitas sekolah, kami tetap turun ke lampu merah di depan sekolah untuk mengumpulkan sumbangan.

Di lampu merah itu, aku mengalami berbagai kejadian. Dari digodain supir taksi, dimarahin bapak2, dicipratin air oleh mobil dan motor, berkali-kali nyaris diserempet kendaraan, sampai harus berlari2 demi mengejar orang2 yang ingin memberikan sumbangan. Baju basah, sepatu basah, badan kedinginan. Namun, aku sama sekali tidak kecewa. Aku malah sangat bangga. Karena aku bisa berbagi di hari ultahku sendiri.

Hari ini, dihari ultahku yang ke 18, aku memang tidak bisa mengulang kebahagiaanku seperti di hari ultahku yang ke 14 itu. Tapi aku ingin membuat kebahagiaanku sendiri. Kali ini aku tidak mengharap kado dari orang2 yang kusayang. Tidak kado berupa benda. Aku hanya ingin kado berupa doa untukku. Selain itu juga, aku ingin memberikan kado untuk orang2 yang aku sayangi. Juga berupa doa.

Ya Allah, semoga di hari ultahku ini, aku bisa memberikan kebahagiaan untuk orang2 yang sayangi. Untuk kedua orangtuaku, yang telah memberikan kehidupan selama 18 tahun ini, aku berharap mereka selalu diberikan kebahagiaan, kesehatan, dan umur yang panjang sehingga mereka bisa melihat anak2 mereka, aku dan abangku, berhasil dan sukses. Semoga Engkau selalu melimpahkan kasih sayangMu untuk mereka di dunia dan akhirat. Dan berikanlah mereka rezeki agar mereka bisa menunaikan panggilanMu ke rumahMu di Mekkah sana, Ya Allah…

Untuk abangku, orang yang paling mengerti aku di dunia ini, semoga abang selalu berhasil dalam hidup. Semoga TA abang bisa abang selesaikan dan abang bisa wisuda tahun ini. Setelah itu abang bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa cepat dapet jodoh…

Untuk guru2ku yang selama ini telah membimbingku. Semoga amal dari ilmu yang kalian berikan selalu menjadi amal jariyah yang tidak akan ada habisnya.

Untuk teman2 dan sahabat2ku, terima kasih karena telah menjadi teman yang baik untuku. Aku tahu jika selama ini aku bukanlah teman yang baik. Karena itu semoga Allah membalas keikhlasan kalian menemaniku berlipat ganda.

Untuk orang2 yang pernah membantuku, siapa pun itu. Semoga kalian semua mendapat balasan yang baik dari Allah.

Untuk orang2 yang pernah menyakitiku, apapun itu, siapapun dia. Semoga Allah kekhilafan kalian dimaafkan oleh Allah.

***

Aku juga ingin berdoa untuk diriku sendiri. Aku berharap semoga kedepannya hidupku membaik. Aku bisa menjalankan perintahMu dengan sebaik2nya. Semoga aku diberikan kesehatan, ketenangan dalam hidup, ketenangan dalam berpikir sehinga aku bisa belajar dengan tenang, bisa lulus UN, dan bisa kuliah ditempat yang terbaik bagiku. Juga diberikan rezeki yang baik dan nanti, jodoh yang baik.

Aku, beberapa jam sebelum berumur 18 tahun.. I hope I can be better in my new age..

Aku, beberapa jam sebelum berumur 18 tahun.. I hope I can be better in my new age..

Aku sangat bersyukur atas kebahagiaan yang telah engkau berikan selama 18 tahun hidupku ini. Keluarga yang baik, saudara yang sangat mengerti aku, teman2 yang baik, guru2 yang telah mengajarkan kehidupan, dan orang2 yang pernah dan telah hadir dalam hidupku.

***

Setitik Doa di Hari Bahagia
aku tahu
aku bukan hamba yang baik
aku bukan hamba yang patuh
juga bukan hamba yang takwa
tapi aku
ingin menghargai detik-detik waktuku
yang aku tahu
takkan lama lagi berputar
mengelilingi ragaku
mengiringi langkahku
aku sadar
ulangtahun adalah alarm
yang berdering setiap tahun
mengingatkan detik-detik kematian
yang tak tahu kapan akan datang
aku hanya bisa pasrah
menanti datangnya akhir
dari hidupku
bertambahnya usiaku
bukan berarti bertambah panjang nyawaku
justru semakin pendek
seperti batang rokok yang dihisap
yang akan terus memendek
dan terbuang
aku hanya berharap
di sisa detik-detik waktuku
aku bisa menjalani hidup ini
dengan lebih baik
dan berguna
aku ingin
bisa memberikan kebahagiaan
pada dunia ini
hanya ini
setitik doaku
di hari bahagiaku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 31, 2008 by in Curahan Hati, My Aspirations.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: