Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Nice Try…

Assalamu’alaikum…

Dah lama banget engga nulis.. Tiba2 kepingin nulis lagi. Gapapalah… Biar pencerahan dikit. Hehehehehehehe… Well, kali ini mungkin cerita pengalaman hidupku yang mungkin bisa di bilang cukup konyol. Berawal dari iseng dan coba2 ajah. Taunya malah keasyikan, tapi tetap ajah, skill pas2an dan yah, mungkin agak memalukan..

Hahahahaha… Mungkin pada penasaran kali yah? Langsung ajah..

Ini tentang pengalaman saya mencoba2 salah satu bidang seni, yaitu bidang tari. Well, cukup konyol, mengingat saya ga ada bakat jadi penari kayaknya. Cuba sekedar ikut2an, coba2, iseng2 berhadiah.. Hehehehe… Okehlah, porsi badan saya emang cukup pas untuk jadi penari (katanyaaaaaa…………..), tapi kalo udah disuru goyang, kayak robot banged… Walhasil, saya sendiri tidak tau apa jadinya….

Okeh, mungkin sedikit review aja deh….

Saya memulai karier (caelaaahhhh….) sebagai penari itu waktu jaman TK, sekitar taun 95-96 gtu (saya juga lupa…..). Waktu itu saya masih teka nol kecil. Saat itu, mau ada acara lulus2an anak teka nol besar (jujur saja, saya masih bingung dengan penamaan kelas di teka… ada nol kecil, ada nol besar.. cara nulisnya gimana yak???? 0 (nol kecil) dan O (nol besar)…  gitu kali yah????). Jadilah anak2 teka o kecil disuruh mengisis acara lulus2an tersebut. Karena kelas yang menampilkan nyanyi2an udah banyak, maka wali kelas saya memutuskan untuk bikin acara tarian.

Namanya anak teka, kalo disuruh nampil2 gitu pasti semangatnya bukan main. Ga peduli mau nampilin apa, malu2in apa engga, yang penting bisa naik ke atas panggung. Akhirnya anak2 cowo di kelasku menampilkan gerak dan tari “Aku seorang kapiten” dan anak2 cewe akan ngedance pake medley lagu yang liriknya, “Mak inem orangnya tua… Mak inem suka latah…” dan “Pok ame2 belalang kupu2.. Siang makan nasi kalo malem makan batu” (salah, minum susu….). Well, kalo sekarang dipikir2, itu lagu beneran “gak banged” untuk menjadi soundtrack ngedance…. Gilaaaa… Masa lagunya kayak gitu??? Hahahaha… Tapi kami anak2 teka ini gak pake malu lagi joget2 ga jelas dengan lagu yang lebih gak jelas itu.

Sesi latihan berjalan lancar. Cukup 2 minggu kami latihan menari. Latihan cukup oke. Akhirnya tiba saatnya untuk unjuk gigi di atas panggung. Dengan kostum terusan warna merah-biru, kami, 8 anak teka, menari sesuka hati di atas panggung. Kayaknya enggak ada lagi sinkronisasi gerakan. Pada lupa diri semua. Yang penting joged, kalo salah bodo amat… Hehehehehehehehehehe…..

Karier nari saya ga berakhir di panggung lulus2an anak teka itu. Walau pun sempet vakum cukup lama, akhirnya saya naik panggung lagi pada saat kelas 6 SD. Wakakakakakaka… Jauh sekali. Dan tepatnya lagi, pada saat saya lulus2an SD (apakah karier nari saya cuman di panggung lulus2an?? kita lihat saja..).

Pada saat itu, saya bingung mau ngisi apah pada saat acara lulus2an SD itu. Akhirnya saya dan 2 orang teman yang cukup dekat memutuskan untuk ngedance aja di acara itu. Apalagi emang belum ada yang mau ngedance di sana. Akhirnya, kami bertiga berhasil mengumpulkan 3 orang lagi untuk membentuk grup dance.

Setelah membuat grup dance, saya bingung memilih lagu apa yang cocok untuk ngedance. Akhirnya, karena waktu itu sedang ngetop2nya boyband Westlife, saya pun memilih lagu Westlife dengan judul “Up Town Girl” untuk dijadikan soundtrack dance. Setelah memilih lagu, iseng2 saya menciptakan sedikit gerakan untuk seleksi pengisi acara. Saya hanya berpikir, “Yang penting lulus seleksi dulu deh….”

Tapi ternyata, pas seleksi guru saya bilang gerakannya ga ada yang asik…. (yaeyalah bu… ibu taunya tari melayu….) Jadinya saya dan teman2 disuru perbaiki gerakannya. Jadilah saya dan teman2 ngumpul di rumah saya sepulang sekolah untuk latihan dance.

Pas lagi latihan, lama2 denger lagunya jadi gak asik, akhirnya diganti jadi “When You’re Looking Like That” dan tetep dari Westlife. Walhasil gerakan dirombak semua. Dan akhirnya, yang kami dapatkan adalah dance campur cheerleaders…. Kacau-kacau…. Dan akhirnya sukses disuguhkan dihadapan teman2 pas acara lulus2an itu….

Belum bosen? Okeh lanjuuuttt,,,

Selanjutnya karier nari saya beranjak di SMP. Pas di SMP saya gabung dengan klub cheerleaders, tapi kandas di tengah jalan sebelum nampil. Terus masuk klub tari melayu, tapi karena jadwal bentrok dengan PMR, saya milih PMR dan meninggalkanm klub tari melayu tanpa pernah latihan sedikit pun. Dan rekor dance terbaik saya ada di kelas 1 SMP pada saat tugas kesenian……

Karier tari paling memalukan terjadi pas SMP ini, tepatnya di kelas 2 SMP. Saat itu sedang diadakan classmeeting setelah ujian semster berakhir. Salah satu lomba yang dipertandingkan adalah dance dan cheerleaders. Saat itu, beberpa cewe di kelas saya berminat untuk ikutan dance, tapi kurang orang. Akhirnya saya dan 3 orang teman lain direkrut untuk ikutan ngedance.

Pada sesi latihan, semuanya kumpul di rumah saya, berhubung besoknya udah lomba, kami jadi cepet2 bikin gerakan. Karena bingung, kami ga tau mau pakai lagu apa sebagai soundtrack. Dipikir2, akhirnya kami dapat sebuah lagu. Gerakan pun diciptakan, blocking diatur, dan latihan pun dimulai.

Besoknya, terjadi kehebohan besar saat kami tampil. Delapan anak cewe dari kelas 2.2 tampil di lapangan basket dengan kostum seragam sekolah yang dimodifikasi ala preman. Pake kaus item yang dilapis kemeja seragam yang gak dikancing dipadu dengan rok biru seragam dan topi yang dibalik. Semua orang memandang kami dengan heran. Berhubung 3 dari delapan orang itu adalah anak cheerleaders, dan 2 lagi penari melayu, otomatis orang memandang kami beda. Disangka kami akan tampil dengan tarian keren dan memikat.

Namun sayangnya, saat musik diputar, semua penonton terlongo2 bego. Ya, kami ngedance dengan salah satu lagu dari PROJECT POP!!!! Lebih tepatnya yang berjudul “Dangdut It’s a Music of My Country”. Terbayang gilanya penonton melihat kami. Awalnya ngedance dengan gerakan yang keras, sesuai awal lagu yang ngerock, tapi tiba2 kami malah freestyle goyang dangdut di tengah lapangan. Penonton heboh, para juri tertawa dan kami setengah mati menahan malu.

Jujur saja, kami menampilkan kegilaan yang tidak biasanya itu hanya sekedar mencari hiburan. Tidak pernah berharap untuk menang. Apalagi kelas2 lain benar2 menampilkan modern dance, bukan dance setengah gila dicampur dengan freestyle joged dangdut. Tapi, dewan juri pun sepertinya terkena racun kami. Tari ala sesajen suku primitif itu dianugerahi juara ketiga… Ya sodara2, juara KETIGA!!!! Apakah mata juri sudah soak????

Setelah kegilaan dance Project Pop itu, saya tidak menari lagi di SMP. Karena saat itu saya pindah haluan jadi anak band. Tapi, hal itu tidak termasuk bahasan yang ada di sini. Jadi, tidak akan saya bahas.

Sewaktu SMA, untuk pertama kalinya, saya mencoba aliran tari baru, yaitu tari melayu. Walau pun bukan untuk di dalami, melainkan untuk ambil nilai kesenian. Pada saat itu, guru seni meminta kami untuk menarikan Tari Persembahan. Karena saya belum pernah menari melayu yang lemah gemulai itu, saya cukup kesulitan. Namun akhirnya, tetap saja saya harus remedial. Tapi, karier tari persembahan tidak berakhir di sana, kita lihat saja nanti.

Sewaktu kelas XI, ada tugas untuk membuat kolaborasi musik dan tari. Kelas saya mengambil tema Helloween. Maka kami harus ngedance ala zombie2 yang ada di video clip Michael Jackson, “Thriller” dengan lagu latarnya “This is Helloween” milik Panic! At The Disco. Awalnya saya salah satu penari zombie itu. Namun karena waktu itu kurang orang untuk musik, maka sebagai mantan anak band gagal, saya pun di tarik untuk jadi pemain bell. Dan berakhir lah karier tari saya bahkan sebelum naik pentas…

Akhirnya saya lulus SMA dan mulai memakai jilbab. Saya berpikir karier tari saya yang abal2 itu sudah kandas. Apalagi saya kemudian masuk kuliah teknik. Tak mungkin bakal ada tari lagi. Namun, ternyata saya salah besar. ketika saya menjadi mahasiswa baru, beberapa orang senior saya berniat untuk membangun UKM seni di kampus. Dan saya diajak untuk membangun UKM tersebut. Dan jadilah saya sekretaris pertama UKM yang diberi nama Kumpulan Anak Seni alias KuAS.

Di KuAS ada 5 divisi seni yang dikembangkan, musik, tari, vocal, teater, dan rupa. Berhubung saya tidak ingin mengulang kasus jadi anak band gagal, suara saya terlalu fals untuk disuruh menyanyi, tidak bakat akting, dan tidak bisa bikin apa2, saya akhirnya saya memilih membangun kembali karier tari yang sempat kandas. Dan berhubung saya sudah tidak pantas lagi ngedance ala orang kesurupan karena sudah tutup aurat, akhirnya saya masuk sub divisi tari kreasi melayu.

Saya pertama kali naik pentas saat launching UKM Kuas. Menarikan tari kreasi dengan lagu Jay Wijayanto, “Rentak 106” yang 70% gerakannya saya yang mengarang (padahal saya belum pernah nari melayu). Saya naik pentas bersama 3 penari lainnya. Cukup malu karena gerakan saya masih seperti robot. Kaku. Tapi kerja keras saya membuahkan hasil. Saya dan 3 teman saya dipercaya menjadi penari kampus!!!!

Saat launching KuAS

 

Akhirnya job pertama pun muncul. Saya mendapat kepercayaan untuk menari persembahan (ingatkah anda dengan reputasi ujian kesenian tari persembahan saya????) di salah satu hotel untuk menyambut tamu dari Malaysia. Karena saat itu kami masih berempat, akhirnya dosen saya menunjuk salah satu senior untuk menari bersama kami. Dan dimulailah latihan penuh penderitaan itu (badan saya sakit semua karena banyak gerakan jongkok berdiri….). Akhirnya tiba saatnya saya harus pentas. Dengan kostum dan makeup super menor, saya dan 4 teman saya menari dengan cukup memuaskan.

Saat nari persembahan

Setelah job itu, kami pun terpikir ide gila. Ikutan festival seni!!!! Akhirnya kami mendaftar untuk ikut festival tari kreasi di salah satu universitas. dengan persiapan hanya 3 hari untuk membuat koreografi tarian dengan lagu “Tepuk tangan”nya Siti Nurhaliza, dan sehari sebelum lomba kami memutuskan untuk kembali menggunakan Rentak 106 karena merasa tidak pede untuk menarikan tarian baru itu. Dan ikutlah kami ke dalam festival itu sebagai penggembira, karena lawannya semua dari sanggar2 yang sudah professional. Dengan kostum yang dipinjam gratis dari tukang makeup kami, kami menari dengan banyak kesalahan di atas panggung karena grogi dan pede yang sudah kikis duluan gara2 lihat peserta2 sebelumnya.

Mejeng dulu

In action

Setelah festival ini, karier tari saya mulai kandas lagi. hanya sempat dapat 1 job tari persembahan dan setelah itu karena cedera, saya memutuskan untuk mengakhiri karier tari saya. Di Kuas, masih ada adik2 tingkat yang bisa meneruskan dan lebih baik. Jadilah saya mengamputasi karier tari saya di sini.

Well, saya bukan penari yang sebenarnya. Saya ga pernah masuk sanggar, saya ga pernah belajar secara serius. Saya cuma penggembira aja. Iseng2 berhadiah, belajar tari secara otodidak. Saya bisa modern dance dan saya juga bisa tari melayu. Dan saya juga bisa sedikit2 membuat koreografi dari tari melayu. Sering saya membuat koreografi atau memperbaiki gerakan tari. Dan saya masih menyimpan satu koreografi yang saya buat sendiri. Sayangnya saya terlalu malu untuk memperlihatkan, karena saya bukan ahlinya.

Coba2 itu menyenangkan, kita bisa melihat seberappa jauh kemampuan kita. Siapa tau kita bisa menggali potensi kita. jadi jangan ragu untuk mencoba sesuatu yang baru ya….

 

*Foto2 saat TK, SD, dan SMP tidak ada karena foto2 pas TK dan SD udah hilang dan yang SMP, waktu itu belum jamannya HP kamera…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 28, 2011 by in Curahan Hati.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: