Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Menggantung Hidup di Palang Busway

Assalamu’alaikum..

Well, saya mau sedikit cerita mengenai kejadian beberapa hari lalu yang cukup membuat saya takut setengah mati. Bagaimana tidak, sedikit saja teledor, maka nyawa bisa melayang. Mungkin langsung ajah saya cerita, sekalian saya bayar utang sama dua orang yang udah merajuk di facebook saya. Hehehehe.. Okeh, tulisan kali ini saya dedikasikan kepada Mak Nesya Azlinia dan Om Nurul Mahfud.. ^.^V

Ini nih tampangnya si Busway Batam. Dan kalau Anda bisa melihat palang merah di dekat pintu, dengan palang itulah saya bergantung. Hehehehe...

Bagi penduduk Kota Batam, tentu gak asing lagi sama yang namanya busway. Bukan orang Jakarta aja yang punya busway, orang Batam juga punya busway juga loh. Bedanya kalau di Jakarta namanya TransJakarta, kalau di Batam namanya Bus Pilot Project. Terus juga, busway Batam gak punya jalur khusus kayak busway Jakarta. Busway Batam hanya melalui jalur protokol yang ada. Dan yang juga berbeda, kalau orang Jakarta mau buru2 pasti naiknya busway. Tapi kalau orang Batam mau buru2, saya sarankan jangan pernah naik busway karena Anda pasti akan terlambat (maklum, sudah pengalaman).

Busway merupakan sarana transportasi yang murah meriah. Bayangkan, ongkosnya saja Rp 3.000,- untuk umum dan Rp 1.500,- untuk pelajar/mahasiswa dengan jarak jauh-dekat tarifnya sama saja. Tentu saja dengan ongkos segini, banyak sekali peminat busway walau busway hanya melayani trayek Sekupang-Batam Center PP dan Batu Aji-Batam Center PP. Maklum saja, kalau naik angkutan lain, ongkosnya bisa 3 sampai 4 kali lipatnya.

Okeh, cukup perkenalan si busway.

Sebagai mahasiswa dengan uang saku pas2an, saya cukup mengandalkan si busway kalau tidak ada yang bisa mengantarkan ke kampus. Kebetulan sekali si busway ini searah dengan jalur ke kampus walau pun setelahnya saya masih harus nyambung naik angkot. Paling banyak saya habis Rp 5.000,- untuk sampai ke kampus. itu pun kalau saya bayar buswaynya yang Rp 3.000,- (maklum, kalau kita bilang “mahasiswa” pas bayar tiket busway, bapak2 yang jaga tempat tiket suka mendadak cemberut gitu. Jadinya males banged lihatnya. Kecuali kalau emang benar2 udah bokek). Tapi kalau saya bayar yang harga mahasiswa, mentok2 cuman abis Rp 3.000,- nyampe kampus. Okay, skip this.

Halte yang biasa dinaikin..

Nah, beberapa hari yang lalu saya menggunakan jasa busway untuk pergi ke kampus. Saya tidak naik dari halte yang biasa, melainkan satu halte lebih awal dari halte yang biasa. Karena saya tau itu jam anak2 pulang sekolah, kalau gak naik dari halte yang sama dengan mereka jangan harap dapat tempat.

Dan akhirnya saya naik dari halte yang berbeda. Dan ternyata, buswaynya sudah sangat amat penuh dengan orang2 dari berbagai kalangan. Kayak sarden deh. Mantap banged. Karena udah terlambat, jadinya saya tidak nunggu busway selanjutnya, tapi tetap nekad naik busway “sarden” tersebut.

Karena buswaynya sudah penuh, otomatis saya harus berdiri. Namun melihat ke dalam sana sudah benar2 tidak ada space dan di samping itu saya juga akhwat yang jaga aurat (ogah yah saya dempet2an ma cowo2 dan pria2 dalam busway itu), akhirnya saya dengan amat sangat rela berdiri di space yang cukup lapang dan tidak akan tersenggol laki2. Dan space itu adalah : BERGELANTUNGAN DI PINTU BUSWAY.

Nasib emang. Tapi apa boleh buat karena di depan pintu itu ada tempat yang cukup lapang dan tidak berhimpit2an dengan orang lain. Dengan pegangan yang istimewa (kalau yang biasa itu gantungan) yaitu sebuah palang (atau tiang atau apalah), saya berusaha menjaga keseimbangan selama naik busway. Akhirnya saya beradegan bak film India, berpelukan dengan tiang pintu busway.

Tidak cukup hanya untuk menjaga keseimbangan, palang tersebut merupakan penyambung nyawa (lebay banged). Karena kalau sampai lepas pegangan dari palang itu, insya Allah mungkin saya udah gak ada lagi di dunia ini. Dengan pintu busway yang gak bisa ditutup (maklum, busway punya banyak bus yang pintunya udah rusak), siapa pun yang berdiri di depan pintu tanpa pegangan dalam busway yang melaju, bakalan kelempar dan bisa dengan naasnya mencium aspal. Dan hari itu, saya berada di posisi yang tidak menguntungkan tersebut. Belum lagi kelakuan sang supir busway yang masih memaksa untuk menaikkan penumpang dari tiap halte yang dilalui walau pun penumpang busway sudah melebihi kapasitas yang seharusnya sehingga buswaynya makin lelet karena kelebihan beban.

Dan puncaknya, seseorang yang duduk di bagian belakang (saya di tengah) tiba2 muntah. Walhasil itu busway baunya jadi semesrbak. Mungkin orang itu gak tahan pengap dan jadi mabok akhirnya muntah. Kemudian, tak lama dari itu, seorang bayi yang umurnya kira2 masih 4 bulan menangis dengan kerasnya (mungkin kepanasan) dan tidak mau diam sampai saya turun. Padahal itu emak dan bayi itu berdiri dekat sekali dengan saya. jadilah saya menikmati backsound tangisan bayi disela2 radio yang saya dengarkan dari ponsel.

Alhamdulillah, sampai di halte di mana saya harus turun, saya masih bisa bertahan. Walau pun tangan sudah kesemutan karena sama sekali tidak bisa melepaskan pegangan dari palang busway. Daripada nyawa melayang, lebih baik saya tahan kesemutannya. Dan ketika saya turun, saya merasa amat lega.

Namun, dibalik hal yang menurut saya mengerikan tersebut, saya cukup merasakan beberapa keuntungan berdiri dengan memeluk palang tersebut. Pertama, saya tidak perlu merasa risih karena harus berhimpitan dengan orang lain (terutama laki2), kedua saya bisa mendapatkan lebih banyak udara sehingga tidak begitu berkeringat (ya donk, kan depan pintu, jadinya dapet AC alam yang agak bau knalpot, tapi mendinglah daripada pengap dan bau ketek dan bau muntahan, hehehehehe).

Tapi bagaimana pun juga, saya tidak akan kapok naik busway karena itu adalah transportasi yang murah meriah dan sesuai dengan isi kantong. Mungkin saja, para supir busway itu mesti sadar, kejar setoran boleh, tapi tolong perhatikan keselamatan penumpang juga. Biar penumpang lebih nyaman dan makin banyak yang naik busway. So, kalau busway udah penuh, jangan maksa naikin penumpang yaaaahhh…

One comment on “Menggantung Hidup di Palang Busway

  1. Karya hari ini
    October 31, 2011

    Makasih infonya.

    Sekalian numpang tanya Kalo dari sekupang ke hang nadim bisa naik apa aja ya?
    Saya sempat baca bisa : sekupang-batam center-batuaji-hang nadim.
    kira-kira, batam center dan batuaji-nya berenti di pos mana aja ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 29, 2011 by in Curahan Hati.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: