Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Asa Untuk Asya

Gerimis bulan Desember,

seakan tak bisa

menghapus lukaku

 

Tak bisa,

mencuci hatiku

yang penuh ragu

tuk bisa memahami

apa yang kumau

Asya menutup buku harian di hadapannya. Wajahnya sayu dengan bola mata hitam memandang ke luar jendela kamarnya. Gadis itu merenung menatapi tetesan hujan yang jatuh meluapi genangan air yang sudah ada.

“Akankah duniaku ini indah?” batinnya.

Gadis itu kembali merenung sembari menatapi gerimis bulan Desember yang terus merintik di balik sebuah petak berlapis kaca yang bernama jendela. Ponsel mungilnya memutarkan Untitled-nya Simple Plan terus menerus tanpa henti. Lagu kesukaan Asya.

How could this happen at me, I’ve made my mistake, got no where to run…

“Bener-bener lagu yang cocok buat orang yang terpuruk kayak aku…” dimatikannya media player di ponselnya sehingga keheningan kembali merayapi.

Memorinya berputar. Gadis 17 tahun itu teringat semua hal yang membuatnya terpuruk seperti ini.

‘“Kamu bisa, Sya! Kenapa sih kamu selalu pesimis? Kamu gak pernah bisa ngertiin diri kamu sendiri! Kamu gak pernah tau apa yang kamu mau!” suara Adif tadi pagi kembali terngiang di kepalanya.

“Kamu gak tau apa-apa tentang aku! Kamu cuma bisa ngatur-ngatur aku! Kamu kira hidup kayak aku itu enak? Kamu gak pernah ngerasain sakitnya jadi aku!” balasnya.

“Aku bener-bener benci cewek kayak kamu, Sya!”

“Kalau kamu benci aku, ngapain kamu pacarin aku!”

“Aku pengen kamu berubah, Sya! Kamu bisa! Kamu masih punya banyak harapan!”

“Sudahlah Dif, kamu gak akan pernah ngerti!” Asya lari meninggalkan Adif.

“Sya! Aku tau semua luka yang kamu simpan dalam hati kamu!”’

BRAAKK!

Dibantingnya buku harian tebal itu ke atas meja. Asya ingin menumpahkan segala kekesalan hatinya. Merutuki keterbatasannya. Menjadi seperti apa yang ia mau.

Asyana Ariana, cewek 17 tahun yang amat tertutup dan pendiam. Buku harian adalah temannya yang paling dekat. Ia gadis yang selalu merasa dunia tak pernah adil untuknya. Memiliki keterbatasan fisik yang membuatnya hanya bisa duduk berhadapan dengan komputer dan melahirkan puluhan cerpen dan ratusan puisi.

Ya, Asya lahir dengan jantung yang tidak sempurna. Jantungnya mengalami kebocoran. Waktu ia kecil, kebocoran itu masih amat kecil, bahkan tidak membawa pengaruh apa-apa baginya. Bahkan ia bisa berlari, melompat, dan melakukan segalanya yang ia mau. Asya begitu bebas. Namun seiring dengan bertambahnya usia, kebocoran itu semakin melebar sehingga membatasi dunianya.

“AKU CUMA INGIN BISA MENJADI DIRIKU SENDIRI! AKU INGIN DIAKUI OLEH ORANG LAIN! AKU GAK MAU TERUS-TERUSAN JADI ORANG TERBUANG!!” pekiknya tiba-tiba. Airmatanya mulai mengalir.

“Allah gak adil. Kenapa aku gak pernah mendapat kesempatan lagi?” tangisnya terus menderas. Asya terus menangis hingga akhirnya ia tertidur di meja belajar.

Tok-tok-tok. “Sya, makan malam dulu,” terdengar suara dari luar pintu. Bunda. Asya membuka matanya. Tangannya meraih ponsel yang ada di depannya. Jam 19.35. Berarti ia telah tertidur selama hampir 3 jam.

Asya beranjak bangun dari kursinya. Saat melewati cermin ia melihat sosoknya yang nyaris menyedihkan. Berwajah pucat dan matanya sembab. Asya keluar dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu ia bergabung dengan keluarganya di meja makan.

“Duduk, Sya, makan dulu biar bisa minum obat,” kata Bunda sambil meletakkan piring di hadapan Asya.

Wajah Asya makin tertekuk. “Obat lagi. Kapan aku bisa lepas dari obat? Aku muak. Sepertinya hidupku hanya ditentukan oleh obat. Mungkin kalau ortuku gak sanggup beli obat, aku udah mati kali ya?” ia membatin sinis seraya mengambil nasi dan lauk sangat sedikit.

“Kak Tiar mana?” tanya Asya membuka percakapan dengan kedua orangtuanya.

“Pergi. Mau nonton sama teman-temannya,” jawab ayah. “Sya, sebentar lagi kamu ujian semesterkan? Kenapa belum mulai belajar? Kamu sudah pinjam catatan temanmu untuk menyusul pelajarankan?” tanya Ayah bertubi-tubi.

“Iya, ayah.”

“Ayah tidak mau kamu mengecewakan Ayah dan Bunda. Kamu harus bisa mendapat nilai bagus supaya kamu bisa masuk universitas lewat jalur PMDK,” sambung Ayah.

Asya hanya diam. Selalu saja hal itu yang diungkit-ungkit oleh orangtuanya. Ia ingin sekali seperti Tiar, kakaknya, yang bebas pergi ke manapun ia mau dan melakukan apapun yang ia suka. Tidak seperti dirinya, terkurung dalam dunia sempit.

Setelah makan malam, Asya kembali ke kamar, meraih ponselnya. Diketiknya sebaris SMS, “Dif, aq bnr2 capek. Aq gak tau lg hrs bgmana. Aq muak dgn smua ini. Rsnya aq pengen mati aja spya smua ini cepet brakhir…

Sent.

Tak lama kemudian ponselnya berdering, menandakan ada pesan balasan yang masuk. “Aq jg capek, Sya. Aq capek ngasi tau kmu. Kmu gak prnh bs d kshtau. Kmu tuh hrsnya brsyukur. Kmu msh bs hidup.”

Brsyukur msh bs hidup? Kmu tuh gila ya? Kmu tuh gak prnh ngerasain jd aq! Gmn trsiksanya jd aq! Hidup kmu tuh enak, Dif! Kmu bkn org penyakitan yg slalu d remehin org!

Harapan slalu ada, Sya. Kmu hrs prcaya dgn harapan.”

Pesan terbaru yang masuk ke ponselnya benar-benar membuat Asya kesal. “Harapan? Apa itu? Cuma mimpi kosong! Ngapain brharap kalo slalu bikin kecewa! Harapan itu sm dgn mimpi! Gak mgkn jd nyata!

Aq gak tau apa yg ada d pikiran kmu, Sya. Aq slalu brusaha mndukung kmu spy kmu bs bangkit. Tp kmu sama skali gak punya kemauan! Aq sayang kmu, Sya. Kmu pacarq. Aq kshtau kmu sekali lagi: KMU BS SEMBUH! Asal kmu punya keyakinan kmu bs sembuh.

Asya langsung mematikan ponselnya. Ia makin merasa tidak ada lagi orang yang bisa mengerti dirinya. Ia sendiri…

***

Asya duduk termenung sendirian di bangkunya. Sedangkankan anak-anak lain meributkan acara ulangtahun sekolah yang akan mengadakan pagelaran seni. Asya memang sengaja tidak mau bergabung. “Tidak akan ada yang peduli padaku,” pikirnya.

“Sya, kenapa gak gabung?” seorang gadis manis menghampirinya. Ninda, teman sekelas Asya.

“Aku gak tertarik, Nin. Toh, orang kayak aku gak bakal didengerin. Buang-buang tenaga aku aja. Apapun keputusannya aku ngikut aja deh,” sahut Asya malas.

“Setidaknya kamu tau apa yang diributin. Gabung yuk?” Ninda terus mengajak.

“Gak usah, Nin,” tolak Asya.

“Ya sudah,” Ninda beranjak pergi.

Asya lalu meraih tasnya, mencari headset. Lebih baik ia menyumpal telinganya rapat-rapat karena ia tau, sebentar lagi teman-temannya tentu akan membicarakan dirinya. Kemudian ia menyalakan media player di ponselnya dan menutup jalur komunikasi dengan dunia di sekelilingnya.

Dugaannya benar. Teman-temannya mulai mendesis-desiskan cemoohan tentang kelakuannya.

“Dasar cewek aneh.”

Nerd banget sih? Sombong.”

“Orang gila.”

“Ntar kalau sakit aja nyusahin,” dan bermacam cemoohan lainya.

Gadis itu hanya diam. Menutup telinganya rapat-rapat dengan headset. Volume lagu semakin ia besarkan. Kini ia benar-benar terputus dengan dunia luar. Termenung. Mendengarkan nada-nada menyayat hati dari ponselnya.

Tiba-tiba lagu yang ia mainkan terhenti. Sebuah nada dering terdengar di headset-nya. Sebuah pesan masuk. Dari Adif.

Sya, siang nanti aq jemput y? Aq mau bicara sm kmu. Plg jam brp?

Diletakkannya ponsel itu. Enggan untuk membalas. Pasti Adif hanya akan berbicara tentang harapan, mimpi-mimpi, keyakinan, dan semua yang tidak ia percayai. Baginya hidup adalah air sungai. Mengalir kemana saja. Yang telah hanyut, hanyutlah. Tak mungkin bisa kembali lagi.

Aq plg ky biasa. Jam 2.30.

Akhirnya Asya mau membalas pesan itu.Adabaiknya ia bertemu Adif. Siapa tau dia punya tempat untuk meluapkan kekesalan hatinya. Walaupun ya, dipikir-pikir, fungsi Adif sebagai kekasihnya hanya tempat Asya untuk mengeluh. Walau begitu, Adif tak pernah bosan untuk mendengarkannya dan memberinya saran-saran serta dukungan.

Drrt.. drrt..

Oke deh. Aq tunggu y? C u, honey!

Asya tersenyum tipis melihat kata-kata manis di layer ponselnya. “Kenapa ya dia gak bosan-bosan ngedukung aku? Padahal aku ini memuakkan banget…,”  pikirnya.

Pukul 14.30.

Bel tanda pulang telah berbunyi. Asya mengemas buku-buku yang berserakkan di mejanya. Dimasukkan ke dalam tas secara asal. Membuat buku-buku itu sedikit terlipat-lipat. Ponselnya berdering kembali.

Sya, aq udah di gerbang sklh kmu.. Buruan y, honey!

Asya menyandangkan tasnya. Mengembalikan ponsel itu ke saku roknya. Lalu berjalan menjumpai Adif yang duduk di atas motornya di depan gerbang sekolah.

“Kita mau ke mana?” Asya membuka percakapan.

“Ikut saja deh. Kamu pasti suka,” sahut cowok itu sambil mengembangkan senyum.

Asya lalu naik ke motor milik Adif dan dengan agak ragu melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu. Adif pun memacu motornya meninggalkan sekolah Asya.

“Kamu udah makan siang, Sya?” tanya Adif.

“Udah,” jawab Asya singkat.

“Kalau gitu kita langsung kesanaaja ya?”

Sebuah bukit yang indah. Ke sanalah Adif mengajak Asya. Mereka menyusuri jalan setapak kecil disanamenuju ke suah bagian bukit yang terbuka. Asya hanya tertegun memandangi tempat yang didatanginya. Indah sekali. Hatinya seketika merasa tenang.

“Malam hari di sini sangat indah. Banyak bintang-bintang di atassana. Kadang ada bintang jatuh. Kamu taukankalau bintang jatuh bisa mengabulkan keinginan? Sebenarnya aku ingin mengajak kamu ke sini di malam hari. Tapi ayahmu bisa membunuhku kalau aku mengajak anak perempuannya jalan malam-malam naik motor,” kata Adif.

“Bintang jatuh? Aku gak percaya kalau ia bisa mengabulkan keinginan. Itu hanya dongeng pengantar mimpi,” sahut Asya datar.

“Mimpi bisa jadi nyata, Sya. Kenapa kamu begitu sulit mempercayai ini?” Adif menatap Asya dengan wajah memohon.

“Aku udah bosan meminta, Dif. Bosan berharap. Bosan bermimpi. Tapi Allah tak pernah mengabulkan keinginanku. Kalau Allah yang bisa segalanya saja tak mau memberi, untuk apa aku meminta pada bintang yang tidak bisa apa-apa,” ucap Asya sarkatis.

“Sya, aku selalu bilang ini sama kamu. Kamu bisa sembuh, Sya. Kamu bisa. Hanya saja kamu gak pernah punya keinginan untuk melakukan itu. Kadang aku benci dengan sikap kamu, Sya. Kamu terlalu pesimis. Gak pernah punya keinginan, harapan, dan kamu juga tidak mau meminta pada Allah.”

“Udahlah, Dif. Kamu gak usah khotbahin aku. Ini hidupku,” airmata Asya mulai mengalir.

“Yah, aku tau. Aku hanya ingin membuat hidupmu indah. Aku sayang kamu, Sya. Aku ingin selalu menemani dan melindungi kamu,” Adif berkata lembut dan membelai rambut Asya.

“KAMU GAK NGERTI YANG AKU RASAIN! KAMU GAK PERNAH TAHU RASANYA JADI AKU! KAMU GAK TAU RASANYA DIJAUHIN SEMUA ORANG! Huggh….,” Asya menjerit marah lalu mendadak ia memegangi dadanya. Sakit.

“Sya, kamu gak apa-apa?” wajah Adif cemas menandangi Asya yang memegangi dadanya. Jantungnya. Mendadak saja Asya sudah terkulai tak sadarkan diri.

Adif menjadi takut. Ia mengguncang-guncang tubuh Asya agar gadis itu sadar. Tapi Asya tak kunjung sadar. Sontak Adif menggendong tubuh tanpa daya itu. Membawanya turun dari bukit. Menghentikan salah satu taksi yang lewat. Meninggalkan motornya disana. Membawa Asya sesegera mungkin ke Rumah Sakit. Hanya itu yang ada dalam pikirannya.

Asya sudah di bawa oleh perawat ke Unit Gawat Darurat. Adif terduduk di bangku di depan UGD. Ia merasa bersalah. Kalau ada apa-apa dengan Asya, itu adalah kesalahannya. Cowok itu lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi orangtua Asya.

Dokter keluar dari UGD betepatan dengan datangnya kedua orangtua Asya ke Rumah Sakit. Dokter memberitahu bahwa Asya harus segera dioperasi. Menambal kebocoran di jantungnya. Orangtua Asya pun segera menyetujui usulan dari dokter. Maka saat itu juga, Asya di bawa ke ruang operasi.

“Saya minta maaf,Om, Tante. Saya yang membuat Asya marah dan membuat penyakitnya kambuh,” Adif berkata pelan kepada orangtua Asya.

“Tidak apa-apa. Terimakasih karena Adif sudah membawa Asya ke Rumah Sakit. Memang sudah saatnya Asya dioperasi. Usianya sudah 17 tahun dan memang waktunya untuk menambal jantungnya,” kata Bunda Asya.

Dua jam berlalu. Dua jam yang diliputi kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan. Adif masih terdiam dengan rasa bersalahnya. Tak lama, dokter keluar dari ruang operasi.

“Kami berhasil. Sebentar lagi Asya akan sembuh,”dokter itu menyalami orangtua Asya.

***

Dua bulan kemudian.

“Benarkan kataku, kamu pasti sembuh dan kamu bisa melakukan apa saja!” Adif mencubit pipi Asya.

“Makasih ya, Dif. Kamu gak bosen-bosen ngedukung aku. Aku jadi makin sayang sama kamu,” Asya tersenyum manis.

“Tentu saja! Aku ingin kamu berubah. Karena itu aku gak bosan-bosan ngasi tahu kamu. Aku senang banget akhirnya aku bisa melihat wajah Asya yang ceria dan segar kayak gini. Aku bosan lihat kamu yang murung terus. Sekarang kamu percayakan, keajaiban selalu ada. Harapan, keyakinan, dan asa. Asa untuk kamu, Sya,” celoteh Adif. Ia benar-benar gembira.

“Ya deh, mulai sekarang aku akan selalu tersenyum untuk kamu!” Asya memeluk Adif. Dalam hati ia berkata, “ Terimakasih ya Allah. Maaafkan aku yang telah berprasangka buruk padamu…”***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 25, 2011 by in Another Stories.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: