Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Korban Sinetron dan Drama

Assalamu’alaikum..

Saya termasuk orang yang suka nonton, mau nonton TV atau nonton bioskop. Tapi sekarang, saya sudah agak malas kalau harus nonton TV. Kenapa? Karena bagi saya, tontonan di TV sudah tidak banyak lagi yang menarik minat untuk di tonton.

Seperti yang kita sama-sama tau, bagaimana sih kualitas acara TV sekarang? Bagi saya pribadi, kualitas acara TV zaman sekarang sudah sangat menurun. Sekarang acara TV hanya mengejar rating, mengejar keuntungan dan tidak peduli apakah acaranya mendidik, merusak, menipu dan lain sebagainya. Yang penting acara itu ratingnya tinggi. Maka semakin tinggi rating suatu acara, semakin  tinggi jumlah sponsor yang akan masuk dan semakin tebal lah kantong si empunya TV (maaf, kalau sedikit ekstrem bahasanya..).

Acara TV yang saat ini memiliki rating tinggi adalah sinetron dan drama. ada berbagai genre dan alur cerita yang ditawarkan oleh sinetron dan drama. Penontonnya mulai dari ibu2, remaja hingga anak kecil. Mereka semua akan duduk manis di depan TV jika sinetron atau drama yang mereka sukai sedang tayang.

Sebenarnya, menonton sinetron dan drama itu sah2 saja. Toh, sinetron dan drama dibuat untuk menjadi hiburan di kala senggang. Namun, terkadang banyak yang membuat sinetron dan drama jadi berefek negatif. Salah satu contohnya adalah tindak peniruan yang dilakukan oleh penonton sinetron dan drama. Peniruan yang paling sering terjadi adalah timbulnya perilaku konsumtif akibat melihat kelakuan tokoh dalam cerita yang memiliki tingkat kehidupan yang bagus. Sehingga para penonton juga menginginkan hidup seperti itu.

Namun sayangnya, bukannya dijadikan motivasi untuk mencapai kesuksesan, tapi malah dijadikan ambisi untuk memperoleh apa yang dimiliki sang tokoh. Misalnya, di sinetron-sinetron sekarang, banyak menggambarkan tokoh remaja yang menggunakan Blackberry atau BB. Bagi sang tokoh, penggunaan BB sudah menjadi keharusan dalam lingkungan hidupnya (sesuai jalan cerita yang ditulis oleh pembuat skenario). Hal ini menyebabkan penonton yang berusia sama dengan sang tokoh berpikiran bahwa gaya hidup yang sesuai dengan mereka adalah dengan memiliki BB juga. Sehingga mereka akan berupaya dengan berbagai cara, mulai dari cara yang benar hingga cara yang tidak benar.

Selain gaya hidup yang konsumtif, tindak peniruan lain yang cukup banyak terjadi adalah kekerasan dalam pergaulan. Istilah bullying, diskriminasi, pemerasa dan masih banyak lagi hal negatif lain, sudah merupakan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari kaum remaja zaman sekarang. Buktinya, silahkan Anda membuka youtube, baca berita, cari info, sudah banyak kasus kekerasan yang dilakukan remaja pada teman sekolah atau teman bermainnya. Nah, darimana mereka menirunya?

Dari mana lagi kalau bukan dari tayangan visual yang sering mereka tonton. Bagi sinetron dan drama zaman sekarang, adegan kekerasan dalam pergaulan merupakan “bumbu” wajib dalam alur konflik cerita yang akan sangat menarik perhatian penonton. Tapi adegan itu bukan untuk diterapkan di dunia nyata.

Kebanyakan yang menjadi korban tindak peniruan di atas adalah kaum remaja. Kenapa kaum remaja rentan terkena “virus negatif” sinetron dan drama? Hal ini dikarenakan sifat remaja yang masih belum stabil (kalau bahasa gaulnya “ababil” –> korban sinetron juga ini), sehingga mudah tersugesti dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Mereka akan menganggap bahwa yang mereka lihat di tayangan sinetron dan drama itulah parameter gaya hidup yang harusnya mereka jalani. Padahal, apa yang diceritakan sinetron dan drama, banyak yang tidak sesuai dengan realita.

Mereka tidak menyadari, bahwa cerita dalam sinetron dan drama itu hanya sebuah rekaan. Fiktif. Bukan kisah yang benar2. Itu hanya khayalan dari penulis skenarionya. Jadi wajar saja jika banyak hal-hal yang mustahil ada di dalam cerita sinetron dan drama.

Remaja tidak seharusnya menjadi korban sinetron dan drama yang marak di TV saat ini. Seharusnya para remaja memiliki “filter” untuk menyaring mana yang harus dibuang dan mana yang bisa ditiru. Namun sayangnya, kebanyakan remaja justru menyaring yang bagus untuk dibuang dan mengambil yang buruk untuk ditiru.

Banyak orang menyalahkan stasiun TV yang menayangkan sinetron dan drama. Tapi, yang sebenarnya (menurut saya pribadi), kedua belah pihak “sama2 salah”. Stasiun TV seharusnya bisa mempelajari bagaimana psikologi penonton dan tidak membuat cerita yang terlalu berlebihan dalam alur negatif. Atau membuat sebuah cerita yang benar2 seperti realita, sehingga penonton, terutama segmen remaja, dapat mengerti seperti apa kehidupan yang sebenarnya.

Kemudian dari pihak remaja. Seharusnya remaja yang telah mendapat pendidikan yang baik dan benar, bisa mengerti mana hal yang patut dicontoh dan yang tidak patut untuk dicontoh. Jika meniru suatu adegan, sebaiknya ditelaah lagi, apakah adegan tersebut layak ditiru atau tidak. Jangan hanya karena gengsi, hingga harus meniru adegan2 yang negatif dalam sinetron dan drama.

Kepada stasiun TV, pilihlah waktu yang tepat untuk menayangkan sinetron dan drama yang tepat. Jangan hanya meninggikan rating, tapi tinggikan juga moral dan pendidikan di Indonesia ini. Kepada para remaja, jangan mau menjadi korban sinetron dan drama. Pilihlah tontonan yang baik buat kalian. Utamakan pendidikan kalian darripada hal2 yang kurang berguna. Jadikan apa yang kalian tonton sebagai motivasi untuk hidup yang lebih baik. Ambil sisi positifnya, buang yang buruk2.

Semoga Indonesia menjadi lebih baik..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 29, 2012 by in Pelajaran Hidup.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: