Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Now, I’m Flowing Here..

Assalamu’alaikum..

Apa kabar semua? Hampir 3 bulan saya tidak menulis di sini.. Kangen rasanya menulis lagi, tapi apa daya kadang kesempatan belum hadir menyapa saya (Oke, ini cuma alibi sebenarnya. Padahal jika saya mau, kesempatan selalu ada. Hanya saja memang saya yang menyiakannya. *Jangan ditiru).

Sudah setengah tahun hidup saya kembali berubah. Saya mengalir ke tempat yang lain. Setelah 3 tahun saya habiskan untuk mengalir di dunia kampus, kini saya pindah mengalir ke lain tempat: dunia kerja. Dan di sinilah saya sekarang. Duduk di meja kerja, menulis kisah saya yang tersimpan selama hampir setengah tahun dalam memori.

Perubahan ini dimulai di akhir bulan Juli 2012. Ketika saya dinyatakan lulus dalam yudisium setelah lulus sidang Tugas Akhir pada akhir Februari 2012. Dan status saya saat itu adalah: setengah mahasiswa, setengah pengangguran. Setengah mahasiswa karena saya belum wisuda. Setengah pengangguran karena saya belum juga dapat kerja. jadilah status saya manusia setengah2 yang menunggu wisuda di bulan Oktober.

Sebenarnya saat itu saya juga ada kerja, tapi kerja part time saja. Digaji kadang2 kalau ada kerjaan. Kalau tidak ada kerjaan, yah gajinya wassalam. Jadilah saya luntang lantung tidak jelas. Dan saat itu saya amat mendambakan pekerjaan tetap. Dan saya ingin berbagi kisah perjuangan saya mencari pekerjaan tetap.🙂

FYI, saya adalah lulusan D3 jurusan Teknik Informatika di program keahlian Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Dengan titel ini, sudah jelas bahwa seharusnya saya jadi programmer. Tapi saat itu yang ada dipikiran saya adalah jadi programmer itu capek, pusing, stres. Terus saya juga mikir, bahasa pemrograman yang saya kuasai juga tidak banyak. kalau nanti kerja jadi programmer, tidak banyak teman satu bagian, bosnya pasti banyak mau dan kalau yang di-request tidak bisa pasti malu. Itulah hal2 yang yang ada dipikiran saya sehingga saya tidak mau jadi programmer saat itu.

Selain itu juga saya trauma gara2 pernah melamar di salah satu software house (SH) yang baru buka di Batam. Ketika itu saya melamar untuk menjadi System Analyst yang berurusan dengan desain dan struktur software. Waktu itu akhir Mei dan saya baru selesai magang. Melihat pengumumannya di kampus, saya mencoba melamar, mana tau rezeki. Akhirnya pagi hari saya kirim lamaran via email, siangnya saya ditelepon HRD sana dan sorenya saya langsung interview.

Ketika di sana, saya cukup heran melihat situasi kantor yang amat lengang. Rupanya itu SH yang baru buka 3 bulan dan meraka hanya bertiga, 1 orang direktur merangkap programmer, 1 orang marketing dan 1 orang programmer. Saat itu saya yakin pasti diterima karena bahsa pemograman yang mereka pakai cukup saya kuasai.

Namun, ketika interview saya tidak dianjurkan jadi System Analyst, melainkan ditawarkan menjadi junior programmer merangkap IT Support. Alasannya karena saya baru lulus dan belum wisuda. Saya sih terima2 aja, lumayan cari pengalaman. Akhirnya saya di tes dan lulus.

Kemudian saya ditanya soal gaji, saya meminta gaji Rp 2 juta (waktu itu UMK Batam cuma Rp 1,4 juta). Dan lagi2 bosnya bilang saya masih fresh graduate, gaji segitu kebanyakan. Saya nego jadi Rp 1,8 juta(padahal ga ikhlas juga, karena saya tau harga programmer itu berapa. Belum lagi karyawan cuma sedikit dan pasti kerja saya berat). Si bosnya bilang dia akan kirim penawaran via email.

Akhirnya 2 hari kemudian penawaran itu masuk ke email saya. terus terang saya kaget dengan penawaran yang diberikan. Jabatan saya adalah Junior Programmer & System Support(masih bisa diterima), jobdesc cukup banyak(sesuai jabatan), jam kerja Senin sampai Sabtu (wajar, namanya juga swasta), jam kerja 7 jam perhari(termasuk Sabtu), masa percobaan 4 bulan. Dan yang paling mengejutkan adalah gaji yang ditawarkan adalah Rp 1,1 juta. Untuk ukuran programmer bahkan yang paling fresh sekalipun tidak akan sampai harga segitu.

SS email penawaran dari SH itu..

SS email penawaran dari SH itu..

Kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya berapa gaji yang saya dapat setelah 4 bulan. Ternyata gaji yang saya dapat setelah itu adalah Rp 1,4 juta alias gaji sesuai UMK. -__-!!

Saya sempat berpikir untuk menerimanya, mengingat saya masih pengangguran, yang penting ada duit. Tapi kemudian saya pikir2 lagi. Saya tau job desc-nya cukup banyak dan berat. Akhirnya saya bertanya pada orang lain untuk konsultasi.

Yang pertama saya tanya adalah abang saya sendiri yang juga kuliah di jurusan yang sama dengan saya. Ketika saya menyebut gaji, dia tertawa terbahak2. “Mana ada programmer gaji segitu,” katanya. “Namanya programmer, paling kere itu gajinya di atas Rp 2 juta. Kalau kayak gitu, baerarti perusahaannya yang kere.”

Kemudian saya bertanya kepada seorang kawan yang sudah terjun duluan di dunia IT. Dia juga bilang bahwa gajinya sangat tidak masuk diakal, apalagi dengan job desc yang sangat luar biasa seperti itu. Dia pun memberi indikasi bahwa saya hanya dimanfaatkan oleh orang itu lantaran masih polos. “Lumayanlah dia dapet programmer yang lumayan dengan gaji cleaning service (maaf, bukan mendiskreditkan cleaning service loh..). Kamu dibodoh2in sama orang itu,” begitu kata teman saya.

Sebagai pamungkas, terakhir saya berkonsultasi dengan dosen bagian urusan alumni. Bukan hanya tertawa dan mengejek seperti yang dilakukan abang dan teman saya, beliau cukup marah melihat gaji yang ditawarkan. “Saya bukan mau mengajarkan kamu jadi mata duitan, tapi saya mau mengajarkan kamu bagaimana mencari kerja yang baik sesuai dengan kemampuan kamu dan perusahaan itu bisa menghargai kamu dengan baik. Saya harap kamu tidak menerima tawaran itu karena memang tidak layak untuk ukuran kamu. Saya sangat yakin kamu bisa mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik dari itu,” begitu kata dosen saya.

Akhirnya saya pun menolak tawaran dari SH tersebut dengan alasan yang jujur. Kemudian SH tersebut mengirimkan tawaran baru dan masih tidak masuk akal. Akhir saya cuekin saja karena sudah kadung kesal. Sampai dua minggu kemudian, SH itu masih mengirimkan tawaran baru yang berubah setiap dua hari sekali(tapi masih tidak masuk akal) dan sama sekali tidak saya respon. Sejak saat itu, saya agak kapok untuk melamar  menjadi programmer.

Setelahnya, saya memutuskan untuk banting setir. cari kerjaan yang lain. Tidak sesuai bidang pun tidak apa-apa. Akhirnya saya memutuskan mencari kerja sebagai IT Support atau administrasi atau karyawan bank. Itu saya masih sanggup dan saya tau gajinya berapa. Namun, masih ada satu lamaran sebagai programmer yang saya layangkan di awal September ke salah satu SH terkemukan di Batam.

Berbulan2 saya mencari kerja dengan 2 deskripsi di atas. Buka koran tiap hari, buka website lowongan kerja setiap hari. banyak lamaran yang sudah dikirim. Tapi tidak ada satupun yang direspon. kemudian saya datang ke sebuah bursa kerja dan melempar sekitar 6 lamaran. Satu langsung gagal karena saat interview di stand-nya saya tidak bersedia untuk memberikan ijazah asli saya untuk ditahan selama bekerja.

Dari 6 lamaran, hanya 2 lamaran yang saya tujukan sesuai dengan jurusan saya: 1 sebagai Web Designer dan 1 lagi sebagai System Development Engineer. Keduanya di PT besar yang ada di kota saya ini. Selebihnya, saya hanya melamar sebagai admin di 2 perusahaan kecil dan saya melamar juga di 2 bank swasta.

Yang pertama merespon adalah salah satu bank swasta. Saya melamar sebagai Credit Analyst(CA). Saya sama sekali tidak tau CA itu kerjanya apa, hanya melamar itu hanya karena deskripsi sesuai dengan latar pendidikan saya. Akhirnya saya ikut interview dan tes, kemudian saya tunggu 2 minggu tapi tidak juga dipanggil. Maka yang 1 ini berarti gagal alias belum rezeki.

Pada hari yang sama ketika saya interview di bank, salah satu PT besar itu juga merespon lamaran saya dan saya diminta hadir pada hari yang bertepatan dengan tes tertulis bank swasta. Akhirnya saya berpikir, saingan untuk PT besar itu pasti berat dan saya juga tinggal selangkah lagi di bank ini, akhir saya lebih memilih bank. And finally, sudah 2 yang bukan rezeki saya.

Sebulan kemudian, tidak ada lagi yang merspon lamaran saya. Tapi saya masih berusaha melamar ke tempat lain. Akhirnya sebuah distributor produk sehari-hari memanggil saya yang melamar menjadi admin. dan saya diharuskan datang tes dan interview.

Di sana, saya lulus tes dan interview HRD. Tinggal tunggu interview dengan bosnya saja. Karena bosnya sedang keluar jadi interviewnya diundur keesokan harinya. Saat itu para pelamar hanya di foto untuk dikirim ke bosnya itu. Namun, akhirnya saya mengundurkan diri sebelum interview itu karena bosnya mengatakan bahwa pakaian muslimah yang saya kenakan seperti orang yang minta2 sumbangan panti asuhan(bosnya kebetulan non muslim). Dan dia bilang kalau mau diterima, saya tidak boleh pakai baju longgar dan jilbab lebar. Kalau perlu lepas jilbab saja sekalian. Terus terang saya tersinggung dan akhirnya saya mengundurkan diri detik itu juga.

Beruntung, sorenya salah satu PT besar yang lain yang saya melamar menjadi Web Designer, memanggil saya untuk interview keesokan harinya. Saya mengucap syukur dan terhibur setelah (menurut saya) hinaan dari bos tadi. Esoknya saya tes tertulis di PT itu. Soal2nya mudah, hanya saja saya tidak terbiasa dengan teori desain. Karena biasanya saya langsung praktek. Dan jawabannya pun amburadul tidak keruan. Hal ini membuat saya agak pesimis.

Sampai 2 minggu, tidak ada lagi panggilan dari PT itu. Sayapun sudah yakin kalau saya tidak diterima lagi. Makanya saya mencari-cari lowongan lain dan masih seputaran lowongan admin atau clerk.

Suatu hari, saya membaca lowongan admin dari distributor buku pelajaran yang membuka lamaran dengan sistem “siapa cepat dia yang dapat” dengan quota lamaran maksimum 5 orang. Ketika membaca lowongan itu hari masih pagi, sekitar jam 10an. Kemudian saya secepat2nya mandi dan berpakaian dan kemudian pergi ke kantor ayah saya untuk numpang ngeprint karena stok lamaran saya sudah habis (maklum, printer lagi rusak). Karena waktu itu hari Jum’at, saya harus menunggu ayah saya selesai shalat Jum’at dulu baru bisa mengeprint. Akhirnya selesai mengeprint sudah jam 2 dan saya buru2 ke distributor yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor ayah saya.

Sayangnya ketika saya tiba di sana, ternyata sudah cukup 5 orang yang melamar dan lamaran saya pun langsung ditolak. Yaaaahhh.. Gagal lagi sudah.. Tapi tidak apa2, saya sudah berusaha.

Ketika saya pulang setelah melamar itu, salah seorang teman saya yang sudah bekerja di salah satu SH terkemuka menghubungi saya. Dia bilang saya disuruh datang hari Senin untuk interview. Saya pun teringat dengan lamaran programmer terakhir yang saya kirimkan 2 bulan yang lalu. Saya pikir memang tidak akan direspon karena sudah 2 bulan  tidak dipanggil dan saya pun udah melupakan itu.

Hari Senin, saya dan seorang teman saya yang juga dipanggil datang dan bertemu langsung dengan direkturnya. Alhamdulillah, prosesnya tidak panjang dan kami berdua diterima dan langsung bekerja keesokan harinya. Setelah interview saya bertemu dengan GM di sana untuk nego gaji. Saya masih trauma dengan nego gaji di SH yang dulu. Tapi alhamdulillah di sini ternyata gajinya sangat baik dan manajemennya sangat menghargai pegawai. Dan setelah teken kontrak awal percobaan selama 3 bulan, saya resmi menjadi karyawan di sana dengan jabatan programmer (ga ada pake embel2 junior).

Detik saya menuliskan kisah ini, saya bukan lagi karyawan kontrak percobaan, melainkan sudah menikmati menjadi karyawan permanen di sini. Tentu dengan gaji yang tidak pernah saya bayangkan (maaf, saya tidak mau menyebut berapa gaji saya, tapi ini sudah gaji yang relevan buat saya).

Saya yang berputar-putar mencari kerja dengan lowongan admin/clerk, akhirnya tetap menjadi seorang programmer. Bahkan saya harus belajar dari awal karena bahasa pemrograman yang digunakan di sini sama sekali tidak saya kuasai. Tapi karena, alhamdulillah, banyaknya dukungan dari rekan2 kerja sekantor bahkan dari bos dan managernya, saya mampu untuk membuang persepsi saya bahwa jadi programmer itu mengerikan.

Di sinilah sekarang saya mengalirkan hidup saya. Menjadi seorang programmer di salah satu SH terkemuka dan sedang membangun project yang cukup langka di Indonesia.

Hidup itu bagaikan sungai, dia mengalir membawa takdir hidupmu..

Hidup itu bagaikan sungai, dia mengalir membawa takdir hidupmu..

Terus terang, menjadi programmer bukanlah cita2 saya sewaktu kecil. Tapi saat ini, saya masih ingin mengalir di sini. Di tempat yang menyenangkan ini. Saya mengalir di sini sekarang, karena semua yang saya lakukan membawa saya untuk mengalir ke sini. Dan saya akan terus mengalir di sini hingga saatnya aliran hidup akan membawa saya ke tempat lain.

Syukuri apa yang kita dapatkan sekarang, karena itulah yang terbaik untuk kita..

PS. Masih ingat denga PT besar tempat saya tes menjadi web designer? Seminggu setelah saya bekerja sebagai programmer di SH ini, PT tersebut menghubungi saya dan menyatakan bahwa saya lulus dan diminta hadir untuk nego gaji. Tapi karena saya sudah teken kontrak dengan SH ini, maka saya lebih memilih di sini (siapa suru manggilnya udah 2 minggu kemudian?) dan menyatakan mengundurkan diri di sana.

*C u..

One comment on “Now, I’m Flowing Here..

  1. karyo
    July 23, 2014

    kasih bisikan dong gajinya berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 28, 2013 by in Curahan Hati.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: