Hanya Sebuah Catatan Kecil

dariku yang bukan siapa-siapa

Ketika Indonesia Mengkritik..

Assalamu’alaikum..

Well, ketemu lagi. Berhubung lagi suntuk, yah apa salahnya saya menuangkan ke sini. Tidak ada yang melarang. Anda tertarik dan ingin baca silakan, jika tidak tertarik silakan tutup tab blog ini.

Kenapa saya menulis seperti kalimat sebelumnya? Maaf, saya bukan sombong atau belagu. Cuma saya mengantisipasi kelakuan sebagian besar masyarakat di masa sekarang ini yang hobinya mengkritik sesuatu. Sebenarnya tidak masalah. Toh kritik itu baik. Hanya perlu dilihat dari sisi mana kita memberikan kritik. Apakah kritik itu membangun atau menjatuhkan,

Well, akhir2 ini sering saya lihat di media sosial, khususnya Facebook dan Twitter, orang2 ramai mengkritik sesuatu. Apapun itu yang bisa dikritik. Mulai dari hal sepele, hingga urusan negara menyangkut presiden. Yah, media sosial sekarang memang bersifat terbuka sehingga masyarakat dengan mudahnya menyampaikan apapun yang ada di kepalanya dengan suka rela.

Saya tidak mau membahas panjang lebar. Saya hanya mengambil contoh yang kemarin sempat ramai. Hanya itu batasan yang saya bahas kali ini.

Oke, kita skip dulu. Saya cuma mau menekankan bahwa saya tidak ada urusan dengan politik, pemerintahan dan presiden. Saya TIDAK tertarik dengan semua itu. Dan saya BUKAN pendukung kubu ini, bukan juga kubu sebelah. Saya netral dan berusaha memandang dengan objektif. Terima kasih.

Kemarin sempat hangat2nya kehebohan bapak presiden yang sekarang pergi ke Singapura naik pesawat komersial. Ini sempat saya bahas di status FB saya dan ada beberapa teman2 saya yang meresponnya dengan bermacam2 respon. Ini yang saya tulis di FB saat itu:

Saya gak bela siapa2, gak dukung siapa2.. Saya cuma heran aja..
Pak Presiden pergi urusan pribadi pake pesawat kelas ekonomi, orang2 sibuk menjelek2an bilang beliau pencitraan.. Tapi kalo misalnya beliau pake pesawat kepresidenan, saya amat sangat yakin beliau akan dimaki2 karena pake fasilitas negara buat urusan pribadi.. Trus beliau harus naik apa supaya tidak menuai kritik? Naik bajaj? Jalan kaki?

Nah bisa dilihat, beliau serba salah kan? Naik pesawat komersial salah, naik pesawat kepresidenan tambah salah. So, ada yang bisa kasih saran bagaimana beliau seharusnya?

Saat itu saya sempat menonton tayangan di salah satu TV swasta yang membahas masalah itu. Terus terang saya setuju dengan narasumbernya (maaf, asli saya lupa nama narasumbernya. Yang jelas dia mantan menteri). Beliau bilang bahwa tidak masalah presiden bepergian dengan pesawat komersial, apalagi untuk urusan pribadi, namun yang perlu diperhatikan beliau tetaplah seorang presiden. Seorang presiden yang naik pesawat apapun tetap pesawat itu harus diperlakukan sebagai state plane atau pesawat kepresidenan dan diberitahukan bahwa yang naik pesawat tersebut ada seorang kepala negara.

So, bagaimana menurut Anda?

Hal lain yang masih menyangkut urusan Bapak Presiden ke Singapura yang lain adalah pendapat seseorang yang bilang bahwa beliau bukan sosok yang sederhana karena biaya sekolah puteranya mencapai Rp 16 juta/bulan.

Nilai segitu memang fantastis. Tapi haruskah kita men-judge seseorang hanya karena menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal?

Untuk ini saya mau sedikit cerita tentang diri saya sendiri untuk menanggapi masalah ini.

Ayah saya seorang pegawai negeri sipil biasa. Bukan golongan tinggi, tapi hanya golongan cukuplah. Saat itu akhir tahun ’90an. Saat2 presiden kedua lengser. Saya tinggal di kota kecil bernama Batam. Saat itu, Batam masih sepi, belum gemerlap seperti sekarang. Sekolah negeri dan swasta masih bisa dihitung pakai jari.

Karena jumlah sekolah masih sedikit, orangtua sayapun harus berpikir keras dimana harus menyekolahkan anak2nya. Karena saat itu sekolah negeri dekat rumah kualitasnya kurang bagus dan sekolah negeri yang bagus letaknya jauh dari rumah, akhirnya orang tua saya memilih untuk menyekolahkan anak2nya di sekolah swasta dengan pertimbangan letaknya cukup dekat dengan rumah dan bisa dibilang itu adalah sekolah terbaik yang ada saat itu.

Karena ingin memberikan pendidikan dasar yang terbaik, akhirnya tanpa pikir panjang, saya dan abang saya di sekolahkan di sekolah swasta itu. Memang sekolah itu bagus, fasilitasnya bagus, pengaturan kurikulumnya bagus, guru2nya berkompeten dan perhatian kepada muridnya bagus.

hanya saja yang tidak bagus itu biaya sekolahnya. Saat itu, biaya SPP bulanan sekolah dasar negeri berkisar antara Rp 2.500,- sampai Rp 3.500,-. Tapi taukah Anda berapa uang SPP saya? SPP saya sebulan Rp 45.000,-. Hampir 15 kali lipat dari SPP sekolah negeri dan kalikan 2 karena ada abang saya, jadi orang tua saya harus membayar Rp 90.000,-/bulan untuk biaya sekolah kami. Tapi biaya sekolah itu tidak flat, setiap tahun naik, hingga saat saya lulus SD tahun 2003, biaya SPP saya sudah mencapai Rp 160.000,-/bulan. Sedangkan teman sepermainan saya yang saat itu sekolah di sekolah negeri, bilang kalo SPP nya saat kelas 6 SD hanya Rp 10.000,-/bulan.

Nah, sebelumnya saya sudah bilang bahwa ayah saya hanya seorang PNS, ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi Anda bisa melihat bagaimana perjuangan orang tua saya agar anak2nya bisa mendapatkan pendidikan terbaik sejak sekolah dasar. Walau ketika saya masuk SMP dan SMA saya masuk sekolah negeri, tapi saya dimasukkan ke sekolah negeri favorit yang uang SPP nya bisa 2-3 kali lipat sekolah negeri biasa. Dan ketika akan kuliah juga ayah saya mendorong saya untuk mendaftar di universitas ternama seperti UI, UGM, ITB dan ITS, walaupun akhirnya saya kuliah di politeknik negeri yang ada di kota saya karena alasan kesehatan.

Itulah perjuangan orang tua. Orang tua saya yang hanya seorang PNS saja menginginkan pendidikan terbaik untuk anak2nya. Apalagi bapak Presiden yang notabene adalah seorang pengusaha? Tidak heran kalo menginginkan pendidikan yang paling baik untuk puteranya. Beliau sanggup untuk menyekolahkan anaknya sampai keluar negeri. Kalau ayah saya sanggup, mungkin ayah saya juga dengan senang hati menyekolahkan saya ke Singapura karena jarak Batam-Singapura hanya 45 menit naik kapal.

Nah, begitulah orang tua. Tak ada yang lebih penting dibandingkan dengan kesuksesan putera-puterinya. Jika Anda sudah punya anak, Anda pasti mengerti. So please, tolong telaah lebih dulu sebelum Anda mengkritik orang lain. Tak peduli siapa dia, apa profesinya, tinggi rendah derajadnya. Kritiklah hal yang pantas dikritik, jangan mudah dipanas2i oleh media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 9, 2014 by in Pelajaran Hidup.

My Quot

"Apa makna hidup di bumi? Tak bisa dijawab, harus dijalani. Aku adalah diri sendiri. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Aku adalah aku.."

My Facebook

My Twitter

My Profile

%d bloggers like this: